Semua Topik

Manajemen Operasional

Operasional untuk Ekspansi Bisnis

GoFood Gandeng KLHK Gencarkan Edukasi Bisnis Ramah Lingkungan ke UMKM Kuliner

Operasional untuk Ekspansi Bisnis

GoFood Gandeng KLHK Gencarkan Edukasi Bisnis Ramah Lingkungan ke UMKM Kuliner

GoFood Gandeng KLHK Gencarkan Edukasi Bisnis Ramah Lingkungan ke UMKM Kuliner

Manajemen Operasional •

Diperbarui 6 Oktober •

Baca 5 menit

Operasional untuk Ekspansi Bisnis •

Diperbarui 6 Oktober •

Baca 5 menit


Industri kuliner merupakan salah satu sektor usaha yang paling banyak diminati oleh masyarakat. Hal ini terbukti dari banyaknya restoran dan usaha makanan yang dapat Anda temui di setiap ruas jalan. Namun tahukah Anda, sektor ini juga menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar di Indonesia, lho.

Banyaknya sisa makanan yang dibuang, alat makan sekali pakai, dan sampah plastik membuat timbunan sampah yang dihasilkan industri kuliner pun membengkak. Tentu bukan rahasia umum lagi bahwa alat makan sekali pakai dan sampah plastik tersebut merupakan bahan yang tidak bisa terurai begitu saja. Bahkan beberapa jenis plastik tersebut baru bisa terurai setelah ratusan tahun. Minimnya kesadaran akan dampak sampah ini menjadi salah satu ironi karena ekosistem air, tanah, dan udara pada akhirnya menjadi sasaran utama pencemaran.

Untuk membantu meningkatkan kesadaran tersebut, GoFood dalam acara Komunitas Partner GoFood Ngobrol Pintar (KOMPAG NGOPI) mengadakan live streaming bersama Ujang Solihin Sidik (Direktur Pengurangan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dan Nadya Pratiwi Purba (Pemilik Nasi Peda Pelangi) pada hari Jumat, 15 September 2023 lalu. Dalam acara KOMPAG tersebut, para narasumber memaparkan bagaimana dampak yang menghantui jika kebiasaan buruk ini terus berlanjut dan apa saja perubahan yang bisa dilakukan GoFood Merchant untuk ikut berkontribusi dalam keberlanjutan menjaga lingkungan. Mau tahu? Yuk, simak ulasannya.

Industri Kuliner Penyumbang Sampah Terbesar

Meski kerap disepelekan, sampah makanan yang dibuang karena tidak dimakan atau yang lebih dikenal dengan food waste merupakan salah satu penyumbang timbunan sampah terbesar di Indonesia. Menurut data pengelolaan sampah yang dipaparkan oleh Ujang Solihin Sidik, selaku Direktur Pengurangan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dari total timbunan sampah 69,2 ton, 41% penyumbang timbunan terbesar pada data tersebut ternyata berasal dari sisa makan yang dibuang.

Tidak hanya sisa makanan saja, dari industri kuliner ini juga ternyata menyumbang sampah jenis lain yang mengkhawatirkan. Jenis sampah tersebut yaitu sampah plastik sebesar 18% atau sekitar 12,87 juta ton per tahun 2022. Dari data tersebut, tidak heran jika Indonesia menjadi salah satu negara yang menghasilkan sampah plastik terbanyak di dunia.

Sifat sampah plastik yang sulit terurai ini tentunya menjadi polusi dan merusak lingkungan. Tidak jarang sampah plastik yang terbuang secara sembarangan menjadi salah satu alat pembunuh untuk hewan-hewan yang ada di alam. Dari ekosistem tanah, sampah plastik yang tidak terurai tersebut pun dapat membunuh hewan-hewan pengurai seperti cacing. Hal ini tentunya berdampak pada kesuburan tanah karena dapat menghalangi sirkulasi udara dan menjerat ruang gerak mereka dalam proses menyuburkan tanah.

Gotong Royong di Balik Sepiring Nasi

Ditengah kurangnya kepedulian masyarakat terkait sampah, Nadya Pratiwi, founder sekaligus owner Nasi Peda Pelangi ini justru membuat sebuah ekosistem yang memanfaatkan sampah sebagai pendukung keberlangsungan bisnisnya. Berawal dari pertanyaan, “nasi ini datangnya dari mana, ya?” membuat dirinya akhirnya mulai mengulik terkait nasi yang biasanya ia sajikan ke pelanggan.

Nadya bahkan membuat riset selama tujuh hari menggunakan 3 jenis nasi untuk menemukan jenis nasi mana yang baik untuk digunakan. Dari hasil tersebut, Nadya menyimpulkan bahwa nasi dari beras organik yang ditanam tanpa bahan kimia lah yang paling baik. Nasi tersebut masih berwarna putih dibanding nasi dari beras lain yang malah berubah menghitam dan berjamur. Hasil tersebut membuat Nadya akhirnya bekerjasama dengan seorang petani lokal bernama Mas Jum untuk menanam padi tanpa bahan kimia di wilayah Sragen.

Tidak hanya itu, Nasi Peda Pelangi juga bekerjasama dengan Kompos Kolektif untuk mengolah sisa makanan pelanggan yang tidak habis. Sampah makanan tersebut nantinya akan dibuat menjadi pupuk serta makanan maggot. Pupuk yang sudah diproses oleh Kompos Kolektif itu lah yang nantinya akan digunakan Nadya untuk menyuburkan sawah Mas Jum. Hasil beras organik yang ditanam dari sawah tersebut pun nantinya akan digunakan Nasi Peda Pelangi untuk disajikan pelanggan.

Dengan cara ini, Nadya pun menjadi lebih yakin dalam menyajikan setiap menunya ke konsumen sekaligus turut menjaga kelestarian lingkungan. Ekosistem yang ia namakan sebagai #BerasBaikMovement ini juga dimanfaatkan Nasi Peda Pelangi sebagai unique selling point untuk meningkatkan loyalitas pelanggan sekaligus lebih peduli terhadap lingkungan.

Dimulai #DariAksiKecil Untuk Keberlanjutan Usaha dan Lingkungan

Untuk turut andil dalam menjaga lingkungan, Gojek juga bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mulai #DariAksiKecil menggunakan barang ramah lingkungan dan beralih ke zero waste. Beberapa upaya yang bisa dilakukan Gojek bersama GoFood Merchant lainnya antara lain:

- Menggunakan tas pengantar makanan pakai ulang untuk driver

Sebagai upaya mendukung kelestarian alam, driver Gojek saat ini sudah mulai mengganti kantong plastik untuk membawa makanan pelanggan dengan tas berbahan kain atau reusable catering bag. Dengan tas ini, Gojek berharap dapat memulai #DariAksiKecil mengurangi sampah plastik.

- Menggunakan kemasan ramah lingkungan

Sebagai GoFood Merchant, Anda juga dianjurkan ikut serta menjaga alam dengan mengganti bungkus kemasan resto menggunakan yang lebih ramah lingkungan. Beberapa alternatif kemasan yang bisa digunakan yaitu kemasan berbahan dasar karton, kardus, bambu, biofoam, atau food container yang dapat digunakan berulang.

- Mengurangi sampah plastik

Sampah plastik yang tidak diolah secara baik dan benar akan membawa dampak yang sangat fatal bagi lingkungan dan alam sekitar. Untuk turut mengurangi sampah plastik, Anda bisa memulai dengan tidak menyediakan sedotan plastik dan mengganti alat makan menggunakan peralatan yang dapat dipakai berulang kali. Jika masih ingin menggunakan sedotan, Anda bisa mulai menggantinya dengan sedotan stainless yang bisa dicuci dan dipakai kembali.

Nah, itu lah rangkuman KOMPAG NGOPI bersama Ujang Solihin Sidik dan Nadya Pratiwi Purba terkait upaya membangun usaha yang lebih ramah lingkungan. Meski hanya dimulai #DariAksiKecil tapi jika dilakukan secara konsisten tentunya akan memberikan manfaat berkesinambungan dalam jangka waktu panjang. Ditunggu penerapannya di resto Anda, ya!


Apakah materi ini membantu?

like
dislike
Feedback

Punya saran?

Berikan saran Anda terkait materi ini atau yang ingin Anda pelajari di dalam BizTips.


Punya Pertanyaan Seputar GoFood Merchant?

Anda dapat menemukan panduan penggunaan GoFood Merchant di Pusat Bantuan untuk memudahkan Anda.

carton